Senin, 17 Januari 2011

asfiksia berat

ASFIKSIA BERAT

2.1            Pengertian
Asfiksia adalah kegagalan bernafas spontan segera setelah lahir yang disebabkan dari faktor ibu, faktor persalinan, dan faktor janin.
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi yang baru lahir tidak segera bernafas secara spontan dan teratur setelah dilahirkan.
Jadi Asfiksia Neonatorum adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernafas segera secara spontan dan teratur setelah dilahirkan akibat adanya gangguan pertukaran gas atau pengangkutan oksigen dari ibu ke janin.

2.2              Etiologi dan Predisposisi
Asfiksia Neonatorum  terjadi karena adanya gangguan pertukaran gas atau pengangkutan oksigen dari ibu ke janin. Towel (1966) mengajukan penggolongan penyebab kegagalan pernafasan yang terdiri dari  :
a.       Faktor ibu :
Meliputi hipoksia pada ibu usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, sosial ekonomi rendah.
b.      Faktor Plasenta
Meliputi : solusio plasenta. Perdarahan plasenta, plasenta kecil, plasenta yang tidak menempel pada tempatnya.
c.       Faktor janin
Meliputi : tali pusat menumbung gemeli, prematur
d.      Faktor persalinan
Meliputi partus lama, partus dengan tindakan.

2.3              Patofisiologi
Tahap awal asfiksia ditandai dengan periode pernafasan yang tidak teratur, bunyi jantung dan darah meningkat, kemudian diikuti oleh apnea primer. Asfiksia akan menyebabkan redistribusi aliran darah kejantung, otak adrenal agar kebutuhan oksigen dan subtreat terhadap organ-organ vital tersebut terpenuhi. Mekanisme terjadinya redistribusi organ-organ  vital tersebut terpenuhi. Mekanisme terjadinya redistribusi tersebut melalui keadaan hipoksia dan meningkatnya CO2.

2.4              Diagnosa
a.       Diagnosa In Uteri
-          Djj dan frekuensi lebih dari 160 x/menit atau kurang dari 100 x/menit
-          Terdapat mekonium dalam air ketuban (letak kepala).
-          Analisa air ketuban atau amnioskopi
-          Kardiofakografi
-          Ultrasonografi

b.      Diagnosa setelah bayi lahir
-          Bayi tampak pusat dan kebiru-biruan serta tidak bernafas
-          Kalau sudah mengalami perdarahan diotak maka ada gejala neurologist seperti kejang dan menangis kurang baik atau tidak menangis.

2.5              Gejala dan Tanda
-          Pernafasan cepat
-          Pernafasan cuping hidung
-          Cyanosis
-          Nadi cepat
-          Nilai apgar kurang dari 6

2.6              Klasifikasi
Tabel penilaian APGAR SCORE
Tanda
Skor APGAR
0
1
2
Frekuensi Jantung
Tidak ada
< 100 x/menit
> 100 x/menit
Usaha bernafas
Tidak ada
Lambat tak teratur
Menangis kuat
Tanus otot
Lumpuh
Ekstremitas agak fleksi
Gerakan aktif
Refleks
Tidak ada
Gerakan sedikit
Gerakan kuat/melawan
Warna kulit
Biru/pucat
Tubuh kemerahan, eks biru
Seluruh tubuh kemerahan

Klasifikasi klinis APGAR SCORE
-          Asfiksia berat (Nilai APGAR 0-3)
-          Asfiksia ringan – sedang (Nilai APGAR 4 – 6)
-          Bayi normal atau  sedikit asfiksia 7 – 9
-          Bayi normal dengan nilai APGAR 10

2.7              Komplikasi
Asiodosis metabolic, hipaglikemia dan ensefalopati hipoksia iskemik serta gagal ginjal.

2.8              Prognosis
Asfiksia Livida lebih baik dari pallida. Prognosis tergantung pada kekurangan O2 dan luasnya perdarahan dalam otak, bayi yang dalam keadaan asfiksia dan pulih kembali harus di pikirkan kemungkinannya cacat mental seperti epilepsi dan bodoh pada masa mendatang.

2.9              Penatalaksanaan
Sebelum bayi lahir dicatat data penyakit ibu, obat yang didapat ibu, tanda-tanda gawat janin (bila ada) keadaan air ketuban. Segera setelah lahir, bayi diletakkan diatas meja resusitasi yang datar, kemudian keringkan dengan kain secara cepat (kurang dari 20 menit) resusitasi bayi asfiksia tergantung dari hasil evaluasi : pernafasan, denyut jantung dan warna kulit bayi.
            Tindakan-tindakan yang digunakan untuk mencegah asfiksia pada bayi :
a.       Tindakan Umum
Tindakan ini dikerjakan pada setiap bayi tanpa memandang nila APGAR. Segera setelah bayi lahir, diusahakan agar bayi mendapat pemanasan yang baik. Harus dicegah atau dikurangi kehilangan panas dari tubuhnya. Penggunaan sinar lampu untuk pemanasan luar dan untuk  mengeringkan tubuh bayi mengurangi evaporasi.
Bayi diletakkan dengan kepala lebih rendah dan penghisapan saluran pernapasan bagian atas segera dilakukan. Hal ini harus dikerjakan dengan hati-hati untuk menghindari timbulnya kerusakan-kerusakan mukosa jalan napas, spasmus laring, atau kolaps paru-paru. Bila bayi belum memperlihatkan usaha bernapas, rangsangan terhadapnya harus segera dikerjakan. Hal ini dapat berupa rangsangan nyeri dengan cara memukul kedua telapak kaki, menekan tendon Achilles, atau pada bayi-bayi tertentu diberi suntikan vitamin K.
b.      Tindakan Khusus
Tindakan ini dikerjakan setelah tindakan umum diselenggarakan tanpa hasil prosedur yang dilakukan disesuaikan dengan beratnya asfiksia yang timbul pada bayi, yang dinyatakan oleh tinggi-rendahnya Apgar.
1)      Asfiksia berat (nilai Apgar 0 – 3)
Resusitasi aktif dalam keadaan ini harus segera dilakukan. Langkah utama ialah memperbaiki ventilasi paru-paru dengan memberikan O2 secara tekanan langsung dan berulang-ulang. Cara yang terbaik ialah melakukan intubasi endotrakeal dan setelah kateter dimasukkan ke dalam trakea, O2 melalui kateter tadi. Untuk mencapai tekanan 30 ml air peniupan dapat dilakukan dengan kekuatan kurang lebih 1/3 – ½ dari tiupan maksimal yang dapat dikerjakan.
Secara ideal napas buatan harus dilakukan dengan terlebih dahulu memasang manometer. Dapat digunakan pompa resusitasi. Pompa ini dihubungkan dengan kateter trakea, kemudian udara dengan O2 dipompakan secara teratur dengan memperhatikan gerakan-gerakan  dinding toraks, bila bayi telah memperlihatkan pernapasan spontan, kateter trakea segera dikeluarkan.
Keadaan asfiksia berat ini hampir selalu disertai asidosis yang membutuhkan perbaikan segera; karena itu,  bikarbonas natrikus 7,5% harus segera diberikan dengan dosis 2 – 4 ml/kg berat badan. Obat-obatan ini harus diberikan secara berhati-hati dan perlahan-lahan. Untuk menghindari efek samping obat, pemberian harus diencerkan dengan air steril atau kedua obat diberikan bersama-sama dalam satu semprit melalui pembuluh darah umbilikus.
Bila setelah beberapa waktu pernapasan spontan tidak timbul dan frekuensi jantung menurun (kurang dari 100 permenit) maka pemberian obat-obatan lain serta massage jantung sebaiknya segera dilakukan. Massage jantung dikerjakan  dengan melakukan penekanan  diatas tulang dada secara teratur 80-100 kali permenit. Tindakan diikuti dengan satu kali pemberian napas buatan. Hal ini bertujuan untuk menghindarkan kemungkinan timbulnya komplikasi pneumotoraks atau pneumomediastinum apabila tindakan dilakukan secara bersamaan. Disamping massage jantung ini obat-obat yang dapat diberikan antara lain ialah larutan 1/10.000 adrenalin dengan dosis 0.5 – 1cc secara intravena / intrakardial (untuk meningkatkan frekuensi jantung) dan kalsium glukonat 50 – 100 mg/kg berat badan secara perlahan-lahan melalui intravena berupa plasma, darah atau cairan pengganti lainnya (volume expander) harus segera diberikan.
Bila tindakan-tindakan tersebut diatas tidak memberi hasil yang diharapkan, keadaan bayi harus dinilai lagi karena hal ini mungkin disebabkan oleh gangguan keseimbangan asam dan basa yang belum diperbaiki secara semestinya, adanya gangguan organik seperti hernia diafragmatika, atresia atau stenosis jalan napas, dan lain-lain.
2)      Asfiksia ringan – sedang (nilai Apgar 4 – 6)
Disini dapat dicoba melakukan rangsangan untuk menimbulkan refleks pernapasan. Hal ini dapat dikerjakan selama 30 – 60 detik setelah penilaian menurut Apgar 1menit. Bila dalam waktu tersebut pernapasan tidak timbul, pernapasan buatan harus segera dimulai. Pernapasan aktif yang sederhana dapat dilakukan secara pernapasan kodok (frog breathing). Cara ini dikerjakan dengan memasukkan pipa ke dalam hidung, dan O2 dialirkan dengan kecepatan 1 – 2 liter dalam satu menit. Agar saluran napas bebas, bayi diletakkan dengan kepala dalam dorsofleksi. Secara teratur dilakukan gerakan membuka dan menutup lubang hidung dan mulut dengan disertai menggerakan dagu ke atas dan kebawah dalam frekuensi 20 kali semenit. Tindakan ini dilakukan dengan memperhatikan gerakan dinding toraks dan abdomen. Bila bayi mulai memperlihatkan gerakan pernapasan, usahakanlah supaya gerakan tersebut diikuti. Pernapasan ini dihentikan bila setelah 1 – 2 menit tidak juga dicapai hasil yang diharapkan. Dan segera dilakukan pernapasan buatan dengan tekanan positif secara tidak langsung. Pernapasan ini dapat dilakukan dahulu dengan pernapasan dari mulut ke mulut. Sebelum tindakan dilakukan, kedalam mulut bayi dimasukkan pharyngeal airway yang berfungsi mendorong pangkal lidah ke depan, agar jalan napas berada dalam keadaan sebebas-bebasnya. Pada pernapasan dari mulut ke mulut, mulut penolong diisi terlebih dahulu dengan O2 sebelum peniupan. Peniupan dilakukan secara teratur dengan frekuensi 20 -30 kali semenit dan diperhatikan gerakan pernapasan yang mungkin timbul. Tindakan dinyatakan tidak berhasil bila setelah dilakukan beberapa saat, terjadi penurunan frekuensi jantung atau pemburukan tonus otot. Dalam hal demikian bayi harus diperlakukan sebagai penderita asfiksia berat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar